mp3

Jumaat, November 27, 2009

RENUNG-RENUNGKAN LAH

Assalaamu'alaikum, Saudaraku

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:

Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah".

Tekan 1 untuk 'meminta'.
Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau....

Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:

"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Atau, pernahkah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat
respons seperti ini:

"Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat,

Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail,
Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,
Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,
Tekan 4. "Untuk jawapan pertanyaan tentang hakikat syurga & neraka,silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!"

Atau mungkin juga Anda mendengar ini :

Sistem kami menunjukkan bahawa Anda telah satu kali menelefon hari ini.
Silakan cuba lagi esok."

atau...

Pejabat ini ditutup pada hujung minggu.. Sila hubungi semula pada hari
Isnin selepas pukul 9 pagi."

Alhamdulillah... Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelefon-Nya
setiap saat!!!

Anda hanya perlu untuk memanggilnya bila-bila saja dan Dia mendengar anda. Kerana bila memanggil Allah,tidak akan pernah mendapat talian sibuk. Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika Anda memanggil-Nya, sila gunakan nombor utama ini: 24434

2 : solat Subuh
4 : solat Zuhur
4 : solat Asar
3 : solat Maghrib
4 : solat Isya

Atau untuk lebih sempurna dan lebih banyak afdhalnya, gunakan nombor ini
: 28443483

2 : solat Subuh
8 : solat Dhuha
4 : solat Zuhur
4 : solat Asar
3 : solat Maghrib
4 : solat Isya
8 : Solat Tahajjud atau lainnya
3 : Solat Witir

Maklumat terperinci terdapat di Buku Telefon berjudul "Al Qur'anul Karim & Hadis Rasul"

Talian terus , tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa bil.

Nombor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah talian hunting yang tak
terhingga dan dibuka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun!!!

Sebarkan maklumat ini kepada orang-orang di sekeliling kita. Mana tahu
mungkin mereka sedang memerlukannya

Sabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang
mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa- dosanya walau sebanyak buih laut"

7 Kalimah ALLAH:

1. Mengucap "Bismillah" pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap "Alhamdulillah" pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap "Astaghfirullah" jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap "Insya-Allah" jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.

Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat...
mudah- mudahan selalu, walau sambil lalu... mudah-mudahan jadi bisa,
karena sudah biasa.

Amin....

Wassalaamu'alaikum...

Isnin, November 16, 2009

Fantastic Natural Phenomena...!!!





7 Fantastic Natural Phenomena...!!!

The classical natural wonders are huge and hard to miss - vast canyons, giant mountains and the like.. Many of the most fantastic natural phenomena, however, are also least easy to spot. Some are incredibly rare while others are located in hard-to-reach parts of the planet. From moving rocks to mammatus clouds and red tides to fire rainbows, here are seven of the most spectacular phenomenal wonders of the natural world.


1) Sailing Stones

The mysterious moving stones of the packed-mud desert of Death Valley have been a center of scientific controversy for decades. Rocks weighing up to hundreds of pounds have been known to move up to hundreds of yards at a time. Some scientists have proposed that a combination of strong winds and surface ice account for these movements. However, this theory does not explain evidence of different rocks starting side by side and moving at different rates and in disparate directions. Moreover, the physics calculations do not fully support this theory as wind speeds of hundreds of miles per hour would be needed to move some of the stones.



2) Columnar Basalt

When a thick lava flow cools it contracts vertically but cracks perpendicular to its directional flow with remarkable geometric regularity - in most cases forming a regular grid of remarkable hexagonal extrusions that almost appear to be made by man. One of the most famous such examples is the Giant's Causeway on the coast of Ireland (shown above) though the largest and most widely recognized would be Devil's Tower in Wyoming . Basalt also forms different but equally fascinating ways when eruptions are exposed to air or water.



3) Blue Holes (of Belize)

Blue holes are giant and sudden drops in underwater elevation that get their name from the dark and foreboding blue tone they exhibit when viewed from above in relationship to surrounding waters. They can be hundreds of feet deep and while divers are able to explore some of them they are largely devoid of oxygen that would support sea life due to poor water circulation - leaving them eerily empty. Some blue holes, however, contain ancient fossil remains that have been discovered, preserved in their depths.



4) Red Tides

Red tides are also known as algal blooms - sudden influxes of massive amounts of colored single-cell algae that can convert entire areas of an ocean or beach into a blood red color. While some of these can be relatively harmless, others can be harbingers of deadly toxins that cause the deaths of fish, birds and marine mammals. In some cases, even humans have been harmed by red tides though no human exposure are known to have been fatal. While they can be fatal, the constituent phytoplankton in ride tides are not harmful in small numbers.



5) Ice Circles

While many see these apparently perfect ice circles as worthy of conspiracy theorizing, scientists generally accept that they are formed by eddies in the water that spin a sizable piece of ice in a circular motion. As a result of this rotation, other pieces of ice and flotsam wear relatively evenly at the edges of the ice until it slowly forms into an essentially ideal circle. Ice circles have been seen with diameters of over 500 feet and can also at times be found in clusters and groups at different sizes as shown above.



6) Mammatus Clouds

True to their ominous appearance, mammatus clouds are often harbingers of a coming storm or other extreme weather system. Typically composed primarily of ice, they can extend for hundreds of miles in each direction and individual formations can remain visibly static for ten to fifteen minutes at a time. While they may appear foreboding they are merely the messengers - appearing around, before or even after severe weather.



7) Fire Rainbows

A circumhorizontal fire rainbow arc occurs at a rare confluence of right time and right place for the sun and certain clouds. Crystals within the clouds refract light into the various visible waves of the spectrum but only if they are arrayed correctly relative to the ground below. Due to the rarity with which all of these events happen in conjunction with one another, there are relatively few remarkable photos of this phenomena.

Sabtu, November 14, 2009

Maafkanlah Aku Ayah

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah Orang-orang tercinta. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan akan membuncah seketika jika mengingat itu semua. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan Dia ungkapkan Tanpa kata, tanpa suara…………seolah Dia berkata... "betapa lelahnya aku hari ini". Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita. Selanjutnya, bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari Dia "orang-orang terkasih itu"………. tidak lagi membuka mata untuk selamanya ...

Ayah, maafkan aku........
Gurat keriput di wajahmu, tanda juangmu
Mengumpulkan rupiah demi rupiah
Untuk nasi yang kumakan setiap hari

Ayah, maafkan aku........
Tubuh rentamu, tanda tenaga yang terkuras
Mengumpulkan harap demi harap
Agar aku anakmu bisa hidup layak

Ayah, maafkan aku.......
Aku lebih sering lupa daripada ingat untuk menyapamu
Aku lebih sering merasa lebih hebat darimu
Aku lebih sering melukaimu daripada menyenangkanmu

Ayah, maafkan aku.......
Kalau aku merasa tidak bisa mengerti jalan pikirmu
Kalau aku merasa engkau terlalu berhati-hati
Kalau aku merasa engkau terlalu tua untuk didengarkan

Ayah, maafkan aku.......
Apapun itu, akulah yang sombong
Akulah yang tidak tahu terima kasih
Akulah yang tidak peduli

Ayah, maafkan aku.......
Aku mencintaimu dengan cara yang aneh
Aku menghormatimu dengan cara yang tidak biasa
Aku mengagumimu tanpa kata-kata

Ya Allah begitu besar pengabdian mereka kepada anaknya,
Ya Allah hanya untaian doa yang bisa aku berikan kepada mereka berdua,
Ya Allah Terimalah Doa HambaMu ini.."

ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ” Amin.......

Sungguh Bergetar hatiku,bergetar jiwaku,mengalir air mataku...... .


Salam Inspirasi
Kuku

wasiat ku khas buat mu isteri..ku1

Dengan nama Tuhan, kumulakan butir bicara ini. Agar ia keluar dari hatiku yang tulus ikhlas dan seterusnya akan meresap ke dalam jiwamu dengan penuh ketenangan hendaknya. Selawat dan salam untuk baginda junjungan, pembawa hidayah ketuhanan buat sekian hamba Tuhan.

Kesyukuran yang memenuhi bumi dan melangkaui alam ini kupersembahkan pada Tuhan di atas kurnia yang tiada nilainya buatku. Kurniaan nikmat teragung selepas iman dan Islam yang mendiami hatiku dan dengannyalah aku hidup dan mati.

Inilah dinamakan takdir ketentuan Tuhan. Kasih dan cinta yang tersemai rupanya telah tercatat akan tibanya kesuatu titik perjanjian suci di atas nama dan kalam Ilahi. Ikatan yang menghalalkan hubungan cinta diantara aku dan dirimu. Ijab dan qabul bersaksi melayakkan aku engkau panggil suami dan engkau kupanggil isteri.

Duhai isteriku tersayang,
Terlalu banyak dugaan yang telah kita lalui untuk menikmati saat indah di hari ini. Bukan sedikit pengorbanan yang dilakukan dalam mengejar impian sebuah kebahagiaan yang kita idamkan. Maka, saat pertama kali dahimu kukucup adalah detik terindah yang tidak akan kulupakan terakam dalam hidupku. Tika itu terasa mengalir benih-benih cinta dari dalam hatimu memasuki lubuk jiwaku.

Duhai isteriku tercinta,
Hari ini bermulalah perkongsian hidup antara kita. Penyatuan dua jiwa dan dua hati berlainan perasaan dalam mengharungi suka duka alam rumah tangga. Sebelum kita terus melayari bahtera bahagia di lautan ini, ingin sekali aku menitipkan beberapa wasiat untukmu wahai isteriku agar ia jadi panduan bagimu tatkala perlu.

Duhai kasih, duhai sayang,
Saat ini, aku merupakan keutamaan bagimu selepas Allah dan Rasulmu. Wajib engkau mematuhiku selama mana aku tidak menyuruhmu untuk melakukan sesuatu yang menjadi larangan Tuhan. Hiasilah wajahmu dengan senyuman kerana senyumanmu itu penambat hatiku. Jagalah tutur katamu, karana lidahmu itu tajamnya boleh melukakan hatiku. Fahamilah aku, kerana aku hanyalah seorang lelaki biasa yang tiada keistimewaan dihadapan Tuhanmu dan Tuhanku. Bersabarlah dengan aku, kerana aku manusia yang tidak pernah tidak berbuat salah. Tatkala itu maafkanlah aku. Redhalah hatimu kerana aku ditakdirkan Tuhan hidup sebagai pejuang.

Wahai sayang,
Doaku; wahai Tuhan, jadikanlah kami ini pasangan yang bahagia lagi dirahmatiMu selama-lamanya. Kurniakanlah kami keberkahan hidup, kedamaian hati dan kerukunan rumah tangga.
Ya Allah, hiasilah hidup kami dengan perasaan kasih, sayang, cinta dan rindu dendam yang berpanjangan dan tiada penghujungnya. Janganlah Engkau keringkan hati dan jiwa kami dari perasaan cinta dan kasih sayang kerana ia akan membawa padah yang tidak tertanggung oleh jiwa kami ini.
Ya Allah, kurnialah dari kami zuriat keturunan yang soleh dan solehah yang teguh berpendirian yang akan membawa panji-panji menyambung perjuangan di atas jalanMu.
Ya Allah, izinkanlah kami menikmati hidup bahagia ini sehingga satu saat yang Engkau tetapkan bagi kami tanpa sedikit pun duka yang terpalit diantara kami di hati kami.
Ya Allah…..

wasiat ku khas buat mu isteri..ku yg akhir

Dengan nama Allah, Tuhan yang mentadbir sekalian hati. Segala puja dan puji kupersembahkan sebagai tanda perhambaan. Selawat dan salam buat Rasul junjungan, pembawa ajaran kebenaran dan ahli keluarga serta sahabat baginda yang terpilih lagi terpuji sekalian.



Sayang…

Dalam mengharungi kehidupan ini, kita tidak pernah sunyi dari kesalahan. Besar atau kecil bukanlah kiraan, namun ia tetap kesalahan. Begitu juga dengan ku. Hidupku ini penuh dengan kesalahan. Dosaku pada Tuhan. Dosaku pada taulan tidak terkecuali padamu sayang.



Sayang…

Tiada apa yang dapat menghapuskan dosaku kecuali keampunan Tuhan. Tidak dapat ku temui Tuhanku dalam keadaan tenang penuh dengan kerdhaan kecuali dengan kemaafanmu sayang. Aku bukanlah wali dalam mencari rahmat Tuhan. Aku bukanlah nabi dalam mendapatkan kecintaan Tuhan. Namun aku hanyalah seorang hamba yang kehinaan mencari sejuta keampunan Tuhan bagi dosaku seluas lautan.



Sayang…

Kemaafan mu kutuntut sebagai bekal perjalanan. Terlalu banyak kesalahanku padamu sepanjang perkongsian hidup kita. Aku tahu ada luka di hatimu. Aku tahu ada guris di jiwamu. Oleh kerana toresan belati kesalahanku. Oleh itu, maafkanlah aku suami mu ini. Agar aku tidak tersandung oleh kerikil kesalahanku padamu di pertengahan perjalananku dalam mencari keampunan Tuhan.



Sayang…

Engkaulah insan teristimewa buatku. Anugerah Tuhan sebagai teman perjalanan hidupku. Pun begitu, aku sebenarnya tidak mempunyai kelayakan untuk bergandingan denganmu kecuali ia merupakan takdir ketentuan Tuhan sebagai anugerah buatku. Aku terasa malu sendirian merenung kebaikanmu padaku.

Ya Allah, Ya Tuhan…

Aku mensyukuri atas nikmatMu kepada ku. Anugerah tidak ternilai harganya dengan seisi dunia. Maka, kekalkanlah kebersamaan kami. Satukanlah jiwa kami dan restuilah perjalanan hidup kami. Jauhkanlah kami dari fitnah dan hasad syaitan yang boleh merosakan hati kami dengan seizin Mu wahai Tuhan. Rahmatilah hidupnya dunia dan akhirat. Janganlah Engkau jadikan diriku ini satu bebanan yang menyusahkan hidupnya.

Doa..

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam sebagai pujian daripada orang yang bersyukur dan kesudahan yang baik bagi orang bertaqwa. Selawat dan salam ke atas Rasul kami, Nabi Muhammad dan ke atas ahli keluarga dan sekalian para sahabatnya.

Ya Allah, Ya Tuhanku! Rahmatilah aku dengan Al-Quran dan jadikanlah Al-Quran bagiku sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, Ya Tuhanku! Ingatkanlah aku apa yang aku terlupa daripada ayat-ayat Al-Quran. Ajarkanlah aku daripada Al-Quran apa yang belum aku ketahui. Berikanlah aku kemampuan membacanya sepanjang malam dan siang; dan jadikanlah Al-Quran itu hujah dan bagiku (untuk menyelamatkan daku di akhirat), wahai Tuhan Sekalian Alam.

Ya Allah, Ya Tuhanku! Perbaikilah agamaku yang merupakan pengawal urusankanku. Perbaikilah duniaku yang merupakan tempat hidupku. Perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku; dan jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku daripada segala kejahatan.

Ya Allah, Ya Tuhanku! Jadikanlah sebaik-baik umurku pada penghujungnya, sebaik-baik amal pada penyudahannya dan sebaik-baik hariku hari bertemu dengan-Mu.

Ya Allah, ya Tuhanku! Aku memohon kepada-Mu kehidupan yang tenang, kematian dalam kebenaran dan tempat kembali yang tidak terhina lagi buruk keadaannya.

Ya Allah, Ya Tuhanku! Aku memohon kepada-Mu sebaik-baik permohonan, sebaik-baik doa, sebaik-baik kejayaan, sebaik-baik ilmu, sebaik-baik amal, sebaik-baik ganjaran, sebaik-baik kehidupan, sebaik-baik kematian. Tetapkanlah (kakiku di atas sirat-Mu) serta beratkanlah timbanganku. Perkuatkanlah imanku dan tingkatkanlah darjatku serta terimalah solatku. Ampunkanlah kesalahan-kesalahan dan aku memohon kepada-Mu tempat tertinggi dari syurga-Mu.

Ya Allah, Ya Tuhanku! Aku memohon kepada-Mu apa-apa yang mewajibkan rahmat-Mu, juga apa-apa yang memastikan keampunan-Mu, keselamatan daripada segala dosa, keuntungan daripada segala kebaikan, kemenangan dengan syurga dan pelepasan daripada api neraka.

Ya Allah, Ya Tuhan kami! Perbaikilah akibat dari setiap urusan kami, hindarkanlah kami daripada kehinaan dunia dan azab akhirat.

Ya Allah, Ya Tuhan kami! Kurniakanlah kami rasa takut kepada-Mu, yang dengannya dapat menghalang kami berlaku maksiat kepada-Mu, kurniakanlah kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami dengannnya ke syurga-Mu, kurniakanlah kami keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia yang menimpa kami, berikanlah kami dapat menikmati pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, kekuatan-kekuatan kami selama Engkau masih hidupkan kami, dan jadikanlah semua itu warisan kami, balaslah orang yang berbuat zalim terhadap kami, bantulah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami, janganlah Engkau timpakan musibah dalam agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia ini tujuan utama kami, jangan pula dijadikannya nilaian pengetahuan kami serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasihan kepada kami menjadi pemimpin kami.

Ya Allah, Ya Tuhan kami! Jangan Engkau biarkan kami sebarang dosa melainkan Engkau mengampunkannya, tiada seberang kebuntuan melainkan Engkau melapangkannya, tidak juga hutang piutang melainkan Engkau (berikan jalan untuk) menyelesaikannya dan tidak juga sebarang hajat dunia mahupun akhirat melainkan Engkau menyempurnakannya, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang antara yang penyayang.

Wahai Tuhan kami! Kurniakanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami daripada azab neraka.

Selawat Allah dan salam yang tidak terhingga ke atas Nabi kita Muhammad dan ke atas keluarganya serta para sahabat yang terpilih

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berzikir Dengan Suara Perlahan Atau Kuat.

Berzikir Dengan Suara Perlahan Atau Kuat:
Kita Lihat Pendapat Mazhab Syafi'e

http://fiqh- sunnah.blogspot. com

Masyarakat awam Malaysia secara umumnya sudah terbiasa untuk berzikir di setiap kali selesai solat (setelah salam) dengan cara berjama'ah dan suara yang kuat (dinyaringkan atau dilagukan (koir)).

Di antara dalil yang mereka gunakan adalah hadis dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu sebagaimana berikut:


أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ


Terjemahan: Bahawasanya mengeraskan suara di ketika berzikir setelah para jama'ah mendirikan solat fardhu, adalah biasa dilakukan pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. (Berkata Ibnu 'Abbas):

Dahulu aku mengetahui bahawa berakhir solat (selesai solat) itu adalah apabila telah mendengar suara zikir. (Hadis Riwayat al-Bukhari, Shohih al-Bukhari, Kitab al-Azan, 3/345, no. 796. Muslim, 3/239, no. 919)

Disebabkan masyarakat kita secara umumnya telah sepakat bahawa kita di Malaysia mengamalkan Mazhab Syafi'e, di sini saya mengambil keputusan untuk mengetengahkan perkataan ulama Syafi'iyah sendiri dalam memahami hadis tersebut.

Imam asy-Syafi'e sendiri telah menjelaskan berkenaan hadis ini sebagaimana yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah:


وحمل الشافعي رحمه الله تعالى هذا الحديث على أنه جهر وقتا يسيرا حتى يعلمهم صفة الذكر لا أنهم جهروا دائما قال فاختار للإمام والمأموم أن يذكر الله تعالى بعد الفراغ من الصلاة ويخفيان ذلك الا أن يكون اماما يريد أن يتعلم منه فيجهر حتى يعلم أنه قد تعلم منه ثم يسر وحمل الحديث على هذا


Terjemahan: asy-Syafi'e rahimahullahu Ta'ala menjelaskan berkenaan hadis ini, bahawasanya (Nabi) mengeraskan suara di dalam beberapa tempoh waktu sahaja, ia adalah bertujuan untuk mengajar para sahabatnya berkenaan cara-cara berzikir, bukan bererti mereka (Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan sahabatnya) sentiasa mengeraskan suaranya. Beliau (asy-Syafi'e) berkata:

Aku berpendapat bahawa seseorang imam dan makmum hendaklah mereka berzikir kepada Allah, sebaik selesai menunaikan solatnya, dan hendaklah mereka merendahkan suara zikirnya, kecuali bagi seseorang imam yang mahu supaya para makmumnya belajar (berkenaan zikir) darinya, maka dia boleh mengeraskan zikirnya, sehingga apabila dia merasa (mengetahui) bahawa mereka telah memahami (belajar), maka hendaklah ia kembali merendahkan (memperlahankan) suaranya ketika berzikir. (Rujuk: Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi 'ala Muslim, 5/84)

Imam an-Nawawi rahimahullah sendiri pula turut berkata:


يندب الذكر والدعاء عقب كل صلاة ويسر به. فإن كان إماما يريد تعليمهم جهر. فإذا تعلموا أسر


Terjemahan: Disunnahkan untuk berzikir dan berdoa di setiap kali selesai solat (fardhu) dan hendaklah ia merendahkan suaranya. Apabila seseorang imam dan hendak mengajarkan makmumnya (tentang bacaan zikir), maka ia boleh untuk mengeraskan suaranya, kemudian apabila mereka telah mengetahui, ia kembali merendahkan (suara zikirnya). (Imam an-Nawawi, at-Tahqiq fil Fiqh asy-Syafi'e, m/s. 219. Dinukil dari Muhammad Ariffin Badri, Zikir 'Ala Tasawuf, m/s. 152-154. Rujuk juga: Edisi e-Book (manuskrip))

Imam Yahya B. Abil Khoir al-'Imrani (bermazhab Syafi'e), setelah menyebutkan beberapa riwayat berkenaan zikir-zikir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau memberikan kesimpulan:


فتحمل رواية من روى أنه دعا وجهر. على أنه أراد بذلك ليتعلم الناس. وتهمل رواية من روى أنه مكث قليلا ثم انصرف على أنه دعا سرا بحيث يسمع نفسه


Terjemahan: Riwayat perawi yang meriwayatkan bahawa beliau (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) berdoa (berzikir) dan mengeraskan suaranya, ditafsirkan bahawa beliau (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) melakukan perkara tersebut supaya para sahabatnya dapat belajar dari beliau (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Dan riwayat perawi yang menyebutkan bahawa beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam diam sejenak (setelah selesai solat) kemudian bangun dan pergi, difahami bahawa beliau berdoa dengan merendahkan suaranya, sehingga beliau hanya memperdengarkan untuk dirinya sahaja. (Yahya B. Abil Khoir, al-Bayan, 2/250. Dinukil dari: Muhammad Ariffin Badri, Zikir 'Ala Tasawuf, m/s. 133)

Berkenaan hadis tersebut juga, Syaikh 'Abdullah B. 'Abdurrahman al-Bassam di dalam Syarahnya ke atas 'Umdatul Ahkam berkata:

Di sini sebenarnya harus difahami bahawa Ibnu 'Abbas masih kecil dan dia tidak turut serta dalam solat berjama'ah. Dia mendengar suara tahlil dari luar masjid. Dapat juga diertikan bahawa beliau menyertai solat berjama'ah, tetapi beliau di shaf yang jauh sehingga tidak ada orang yang menyambung suara kepadanya, menjadikan beliau tidak mengetahui telah berakhirnya solat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melainkan dengan mendengar suara tahlil dari saf-saf yang awal. ('Abdullah B. 'Abdurrahman al-Bassam, Syarah Hadis Pilihan Bukhari Muslim, m/s. 266. Edisi Terbitan/terjemahan Darul Falah)

Alasan yang sama turut dijelaskan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqolani yang bermazhab Syafi'e:


فقال عياض الظاهر أنه لم يكن يحضر الجماعة لأنه كان صغيرا ممن لا يواظب على ذلك ولا يلزم به فكان يعرف انقضاء الصلاة بما ذكر وقال غيره يحتمل أن يكون حاضرا في أواخر الصفوف فكان لا يعرف انقضاءها بالتسليم وإنما كان يعرفه بالتكبير وقال بن دقيق العيد يؤخذ منه أنه لم يكن هناك مبلغ جهير الصوت يسمع من بعد


Terjemahan: Berkata 'Iyadh (al-Qadhi 'Iyadh), bahawa Ibnu 'Abbas tidak hadir menyertai solat jama'ah tersebut kerana usianya yang masih kecil, ia tidak termasuk di antara orang-orang yang terus-menerus menghadiri jama'ah, maka beliau mengetahui habisnya solat berdasarkan keadaan tersebut. Ulama selainnya mengatakan, kemungkinan Ibnu 'Abbas hadir di akhir Saf, maka beliau tidak mengetahui selesainya solat berdasarkan salam, akan tetapi beliau mengetahuinya dengan takbir. Ibnu Daqiq al-'Ied berpendapat, dari sini dapat dibuat kesimpulan bahawa di ketika itu tidak ada orang yang menyampaikan takbir imam (muballigh) supaya didengar oleh orang-orang yang berada di akhir saf. (Rujuk: al-Hafiz Ibnu Hajar, Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari, 2/326)

Demikianlah penjelasan berkenaan hadis Ibnu 'Abbas di atas berdasarkan para ulama dari kalangan mazhab Syafi'e.

Kemudiannya, kaedah di dalam persoalan ini sebenarnya dapat dilihat secara umum dan khusus:

1 – Secara umumnya, adab dalam berzikir itu adalah dengan suara yang perlahan dan bukan dikeraskan.

Ini dijelaskan melalui dalil berikut yang bersifat umum:


وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا


Terjemahan: Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Surah al-Israa', 17: 110)

Imam asy-Syafi'e rahimahullah berkata tentang ayat ini:

Maksud kata الصلاة (ash-Sholah) wallahu Ta'ala a'lam adalah doa. لا تَجْهَرْ (Laa Tajhar): Janganlah engkau mengangkat suaramu, وَلا تُخَافِتْ (wa laa tukhofit): Janganlah engkau rendahkan sehingga engkau sendiri tidak mendengarnya. (Rujuk: Imam asy-Syafi'e, al-Umm, 1/127)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ


Terjemahan: Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Surah al-A'raaf, 7: 205)

Ini dijelaskan lagi dengan larangan daripada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berdasarkan kepada riwayat berikut:

Dari sebuah hadis dari Abu Musa al-'Asy'ari, beliau menceritakan:


رفع الناس أصواتهم بالدعاء في بعض الأسفار، فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم: "أيها الناس، أربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصمَّ ولا غائبًا؛ إن الذي تدعونه سميع قريب


Terjemahan: Ketika itu, orang ramai mengeraskan (memperkuatkan) suaranya di dalam berdoa di ketika melakukan safar (perjalanan) , maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun berkata (membantah perbuatan mereka yang mengeraskan suara dalam berdoa):

Wahai manusia, kasihanilah diri kamu. Kerana kamu sebenarnya tidak menyeru kepada yang tuli (pekak) dan yang jauh, sesungguhnya Dzat yang kamu seru adalah Maha Mendengar lagi sangat dekat. (Rujuk: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'anil Adzim, 3/539)

Dalam riwayat yang lain, dari Abu Musa al-'Asya'ari:


كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غَزَاة فجعلنا لا نصعد شَرَفًا، ولا نعلو شَرَفًا، ولا نهبط واديًا إلا رفعنا أصواتنا بالتكبير. قال: فدنا منا فقال: "يا أيها الناس، أرْبعُوا على أنفسكم؛ فإنَّكم لا تدعون أصمّ ولا غائبًا، إنما تدعون سميعًا بصيرًا، إن الذي تدعون أقربُ إلى أحدكم من عُنُق راحلته. يا عبد الله بن قيس، ألا أعلمك كلمة من كنوز الجنة؟ لا حول ولا قوة إلا بالله"


Terjemahan: Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam di dalam sebuah peperangan, tidaklah kami mendaki tanah tinggi, memanjat bukit, dan menuruni lembah, melainkan kami meninggikan suara ketika bertakbir. Kemudian beliau pun mendekati kami lalu bersabda:

Wahai sekalian manusia, tahanlah diri kamu, sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada Tuhan yang Maha mendengar dan Maha melihat. Sesungguhnya Tuhan yang kamu seru itu lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada leher binatang tunggangannya. Wahai 'Abdullah B. Qais, mahukah engkau aku ajarkan sebuah kalimah yang termasuk perbendaharaan Syurga? Iaitu ucapan "La haula walaa quwwata illaa billah" (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah). (Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, no. 19599. Tahqiq Syaikh Syu'aib al-Arnauth: Isnadnya sahih berdasarkan syarat dua kitab sahih (Bukhari dan Muslim))

Maka, secara umumnya, adab dalam berzikir itu adalah dengan suara yang perlahan dan bukan dikuatkan. Cukup dengan sekadar diri sendiri yang mendengarnya.

2 – Zikir boleh dikuatkan (diperdengarkan suara bacaannya kepada yang lain) dengan beberapa sebab yang mengkhususkannya. Ini dapat dilihat melalui beberapa dalil sebagaimana salah satunya dari Ibnu 'Abbas di atas, yang dijelaskan oleh para ulama sebagai bertujuan untuk mengajar.

Ini dapat kita fahami bahawa, dalam soal mahu mengajar sudah tentu zikir perlu diperdengarkan demi untuk memberi tahu kepada para pelajarnya. Namun, dalam praktik untuk ibadah, hendaklah kita mematuhi dengan baik adab-adabnya setelah mengetahui dari apa yang telah dipelajarinya. Demikianlah sebahagian adab dalam berzikir yang merupakan salah satu bentuk ibadah yang mulia dengan tatacaranya, yang bukan untuk dilaksanakan mengikut hawa nafsu.

Prinsip dalam berzikir ini diperkuatkan lagi dengan beberapa penjelasan ulama yang lainnya, antaranya adalah al-Hafiz Ibnu Katsir yang bermazhab Syafi'e, katanya:


أي: اذكر ربك في نفسك رهبة ورغبة، وبالقول لا جهرًا؛ ولهذا قال: { وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ } وهكذا يستحب أن يكون الذكر لا يكون نداء ولا جهرًا بليغًا؛ ولهذا لما سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا: أقريب ربنا فنناجيه أم بعيد فنناديه؟ فأنزل الله: { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ }


Terjemahan: Berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rasa penuh harap dan takut, dan dengan suaramu (lisanmu) tanpa mengeraskannya, dengan sebab itulah Allah berfirman: Dan dengan tidak mengeraskan suara. Dan demikianlah yang disunnahkan, hendaklah zikir itu dengan suara yang tidak sampai seperti suara orang memanggil, dan (bukan dengan) suara yang keras, oleh sebab itu juga di ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

Adakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kita bermunajat (berdoa dengan berbisik-bisik) kepada-Nya ataukah jauh sehingga kita memanggilnya?

Maka Allah pun menurunkan firman-Nya:


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ


Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku memperkenankan permohonan orang yang memohon bila ia memohon pada-Ku. (Rujuk: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'anil Adzim, 3/538)

Sekali lagi dipetik perkataan Imam an-Nawawi dari sumber yang lain dalam syarahnya ke atas hadis Abu Musa al-'Asy'ari, beliau berkata:


ارفقوا بأنفسكم واخفضوا أصواتكم فان رفع الصوت انما يفعله الانسان لبعد من يخاطبه ليسمعه وأنتم تدعون الله تعالى وليس هو بأصم ولاغائب بل هو سميع قريب وهو معكم بالعلم والاحاطه ففيه الندب إلى خفض الصوت بالذكر اذا لم تدع حاجة إلى رفعه فانه إذا خفضه كان أبلغ فى توقيره وتعظيمه فان دعت حاجةالى الرفع رفع كما جاءت به أحاديث


Terjemahan: Kasihanilah dirimu, dan rendahkanlah suaramu, kerana mengeraskan suara, biasanya dilakukan seseorang, kerana orang yang diajak berbicara berada di tempat yang jauh, agar ia mendengar suaranya (apa yang hendak disampaikan) . Sedangkan kamu sedang menyeru Allah Ta’ala, dan Dia tidaklah tuli dan tidak juga jauh, akan tetapi Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat dan bersama kamu dengan ilmunya sehingga dalam hadis ini mengandungi anjuran supaya merendahkan suara zikir, selagi mana tidak ada keperluan untuk mengeraskannya, kerana dengan merendahkan suara itu lebih menunjukkan tanda penghormatan dan pengagungan. Dan bila ada keperluan untuk mengeraskan suara, maka boleh untuk dikeraskan, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis. (Rujuk: Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi 'Ala Muslim, 17/26)

Dari penjelasan Imam an-Nawawi ini kita dapat melihat bahawa secara asasnya setiap orang yang berzikir itu hendaklah dengan merendahkan suaranya, melainkan apabila ada alasan untuk mengeraskannya, sebagai contoh misalnya apabila seseorang imam atau guru (cikgu) yang hendak memberi tunjuk-ajar dan membimbing makmumnya (atau orang-orang tertentu dari para pelajar) memahami wirid-wirid atau zikir-zikir yang dahulu diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam asy-Syafi’e rahimahullah.

Perkara ini dikuatkan dengan dalil sebuah riwayat sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas radiallahu 'anhu ketika beliau menjadi imam di dalam solat jenazah di saat dia hendak mengajarkan kepada makmumnya bahawa disunnahkan membaca al-fatihah dalam solat jenazah:


عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ لِيَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ


Terjemahan: Dari Thalhah bin ‘Abdillah bin ‘Auf, beliau berkata: Aku pernah mensolatkan jenazah dengan berimamkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, maka beliau membaca surat al-Fatihah (dengan suara keras), kemudian beliau berkata: Supaya mereka mengetahui bahawa ini (membaca al-fatihah dalam solat jenazah) adalah sunnah.” (Riwayat Bukhori, 1/448, hadis no: 1270)

Berdasarkan sedikit kupasan di atas ini, alhamdulillah dapat dibuat kesimpulan dengan beberapa point bahawa:

1 – Mazhab asy-Syafi'e menyatakan bahawa amalan berzikir di setiap kali setelah selesai solat fardhu adalah sunnah (dianjurkan) .

2 – Cara berzikir selepas solat adalah dilaksanakan dengan secara individu.

3 – Dilaksanakan dengan suara yang perlahan dan bukan dikuatkan, cukup sekadar diri sendiri yang mendengarnya.

4 – Boleh dikeraskan bacaan sekiranya bertujuan untuk mengajar dan memberi bimbingan kepada orang lain yang mahu memperlajarinya.